Palakiah
Palakiah
Setiap bulan Muharam (Sura), masyarakat Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, melaksanakan tradisi Palakiah sebagai bentuk ungkapan syukur dan permohonan keselamatan bagi seluruh warga desa. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan dipercaya sebagai upaya menolak bala serta menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Prosesi dimulai dengan arak-arakan kepala kambing jenis kendit (bergaris putih di tubuhnya) yang telah disembelih dan diletakkan dalam tandu berhias janur kuning. Arak-arakan diiringi sesaji berupa bunga, kelapa muda, dan aneka jajan pasar, sementara para sesepuh memimpin doa serta membacakan mantra sepanjang perjalanan menuju batas desa. Di tempat tersebut, kepala kambing dikuburkan sebagai simbol persembahan kepada penjaga alam dan leluhur.
Usai prosesi pemakaman simbolik, seluruh warga berkumpul untuk menggelar kenduri bersama. Setiap keluarga membawa lauk pauk sendiri, namun daging kambing dari hewan yang telah disembelih menjadi hidangan utama yang dinikmati bersama-sama. Tradisi yang digelar tiga tahun sekali ini tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Palakiah merupakan cerminan kearifan lokal masyarakat Watulawang yang kaya akan nilai budaya dan spiritualitas, sekaligus potensi wisata budaya yang khas di Kabupaten Kebumen.
(Sumber: Artikel “Aura Magis Tradisi ‘Palakiah’ Warga Watulawang” – Kebumen Ekspres)
