Makam R.A.A Tirtoekoesoemo
Makam R.A.A Tirtoekoesoemo
Makam R.A.A Tirtoekoesoemo merupakan Struktur Cagar Budaya tingkat kabupaten yang ditetapkan pada tanggal 23 Agustus 2024 melalui Surat Keputusan Bupati Kebumen Nomor 400.6.1/758 Tahun 2024.
Sebagai sebuah kota kabupaten yang dibangun pasca Perang Jawa, Karanganyar yang dahulunya menjadi bagian wilayah bernama Roma Jatinegara. Wilayah tersebut termasuk bagian dari Karesidenan Bagelen bersama kabupaten baru lainnya yaitu, Purworejo, Kutoarjo, Ambal, Kebumen, dan Ledok (Wonosobo). Karanganyar bersama Purworejo, Kutoarjo, Ambal, Kebumen, Ledok (Wonosobo) menjadi sebuah kabupaten di bawah karesidenan Bagelen dari tahun 1830-1900. Kemudian karesidenan Bagelen yang dihapus dan digantikan menjadi karesidenan Kedu dari tahun 1901-1942. Karanganyar, pernah berada di bawah karesidenan Banyumas Selatan dari tahun 1928-1931.
Raden Tumenggung Ario Tirtoekoesoemo (dilantik tanggal 28 Maret 1903) merupakan bupati Karanganyar keempat. Yang tidak banyak diketahui orang adalah R.A.A. Tirtoekoesoemo selain menjabat sebagai bupati di Karanganyar juga merangkap jabatan sebagai Ketua Boedi Oetomo pertama hasil Kongres Yogyakarta. Kiprah R.A.A. Tirtoekoesoemo lainnya adalah mendirikan Javaansche meisjesschool te Karang-Anjar (sekolah perempuan Jawa di Karanganyar) di mana putrinya yang bernama Raden Adjeng Soewito menjadi kepala sekolahnya. Di bidang perekonomian pribumi, R.A.A. Tirtoekoesoemo mendirikan koperasi Sedija Madjoe yang memusatkan pada pengumpulan hasil penjualan kelapa warga agar dibeli dengan harga yang pantas dengan menghindari tengkulak. Koperasi ini dikemudian hari berubah statusnya menjadi sebuah perusahaan minyak kelapa.
Beliau wafat pada tahun 1924 dan upacara penguburan R.A.A. Tirtokoesoemo dilaporkan dalam surat kabar Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indiee (4 November 1924).
Bupati Karanganyar kelima dan terakhir adalah Raden Ario Adipati Iskandar Tirtokoesoemo putra dari R.A.A. Tirtokoesoemo (dilantik tanggal 12 April 1912). Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya, ia pertama kali dianugerahi gelar “Ario” pada tahun 1924 dan kemudian menyandang gelar “Adipati” pada tahun 1927 dan menerima songsong emas pada tahun 1931dari pemerintahan Hindia Belanda.
R.A.A. Iskandar Tirtokoesoemo mahir bermain kuda dan kerap mengadakan perlombaan pacuan kuda. Prestasi gemilang lainnya adalah mendirikan Rumah Sakit Nirmala (Panti Raga Nirmala) pada tahun 1919. Pada saat ini, rumah sakit tersebut berubah status menjadi Puskesmas Karanganyar (Teguh Hindarto, Mengenang Karanganyar Ketika Berstatus Regentachap (kabupaten)
