Makam Tumenggung Kolopaking
Makam Tumenggung Kolopaking
Makam Tumenggung Kolopaking merupakan Struktur Cagar Budaya tingkat kabupaten yang ditetapkan pada tanggal 23 Agustus 2024 melalui Surat Keputusan Bupati Kebumen Nomor 400.6.1/765 Tahun 2024. Di ruang dalam bangunan Makam Tumenggung Kolopaking terdiri dari makam 5 buah makam, meliputi makam Kolopaking 1, Kolopaking 2, Kolopaking 3, Kolopaking 4, dan istri Kolopaking 1.
Sebelum Kebumen ditetapkan sebagai administrasi baru pasca Perang Jawa berakhir (1830), Panjer adalah nama wilayah yang berada dalam kekuasaan Mataram. Tumenggung Kolopaking I-IV berkuasa di Panjer sampai pecah Perang Jawa. Kolopaking adalah perubahan nama dari “kalapa aking”. Saat terjadi pemberontakan Trunajaya (1677), Sunan Amangkurat menyingkir dari Plered dan tiba di Panjer.
Sunan Amangkurat menjadi segar badannya setelah meminum air kelapa aking (versi lain menyebutkan terkena racun) yang disuguhkan Ngabehi Kertawangsa. Jadilah julukan baru Ngabehi Kalapaking I alias Ki Gede Panjer Roma III. Dalam babad versi Banyumas, Kiai Kertawangsa (Kolopaking I) turut terlibat aktif dalam pencarian tanah peristirahatan bagi Sunan Amangkurat I yaitu di tegal arum atau Tegal
Kertawangsa berputra Bagus Mandangin (Mandingen) dan bergelar Kalapaking II alias Ki Gede Panjer Roma IV. Bagus Mandangin berputra Kertawangsa Sulaiman dan bergelar Kalapaking III alias Ki Gede Panjer Roma V (Tirtowenang Kolopaking, Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas: Kiai Ageng Mangir, Kolopaking, Arung Binang, Jakarta: Yayasan Trah Kolopaking, 2006)
Tokoh Kertawangsa Sulaiman yang bergelar Kalapaking III alias Ki Gede Panjer Roma V dalam Serat Sujarah Banyumas tidak disebut Kolopaking III melainkan Kertawangsa III. Yang berjuluk Kolopaking III adalah justru Kertawangsa IV.
Di masa Kertawangsa Sulaiman alias Kalapaking III (versi Kebumen) terjadilah Geger Pacina dan Kertawangsa Sulaiman terlibat membantu Pangeran Garendi yang bersekutu dengan pasukan Tionghoa. Dalam versi Kebumen yang ditulis oleh Alm. Tirtowenang Kalapaking beliau ini beristrikan wanita Tionghoa yang pernah menyamar sebagai prajurit Tionghoa lelaki. Namanya Tan Peng Nio (Teguh Hindarto, Dari Panjer Menjadi Kebumen: Sebuah Kronik Singkat - historyandlegacy - kebumen.blogspot.com).
