Makam Syech Anom Sidakarsa
Makam Syech Anom Sidakarsa
Makam Syech Anom Sidakarsa merupakan Struktur Cagar Budaya tingkat kabupaten yang ditetapkan pada tanggal 8 Juli 2025 melalui Surat Keputusan Bupati Kebumen Nomor 400.6.1/194 Tahun 2025.
Menurut keterangan pengelola makam ( Abu Cholid ) sejak dahulu makam ini sudah ada dan terawat dengan baik. Pada awalnya hanya berupa cungkup sederhana, sampai pada tahun 1982 dilakukan pemugaran makam pertama kali. Pemugaran tersebut meliputi makam dan cungkup sampai teras tengah yang terdapat pilar berukir. Tahun 2019 dilanjutkan renovasi kedua, bagian depan dengan pembiayaan donatur
Dilansir dari laman aroeng-binang.blogspot.com, bapak Muhyidin merupakan keturunan ke-12 dari Syekh Anom Sida Karsa. Meneruskan kisah dari para orang tua bahwa Syekh Anom Sida Karsa adalah asli keturunan Raden Patah dari Demak. Silsilahnya adalah Brawijaya V - Raden Patah - Sultan Trenggono - Sunan Prawoto - Pangeran Kediri - Pangeran Sudarmo - Pangeran Anom atau Syekh Anom Sida Karsa.
Semasa hidupnya, Syekh Anom Sida Karsa terkenal memiliki kelebihan. Kabar tersebut sampai ke telinga gerombolan kecu di Ambal. Mereka datang menyatroni rumah Syekh Anom, dengan jumlah sekitar 200-an orang. Sampai di lokasi mereka melihat ada keanehan, yaitu meskipun rumah Syekh Anom miring ke arah utara, namun justru yang di sebelah selatan yang disangga kayu. Para berandal itu pun menganggap pemilik rumah sudah tak waras lagi.
Ketika Syekh Anom Sida Karsa mempersilahkan rombongan kecu masuk ke dalam rumah, lagi-lagi mereka menganggap tuan rumah tak waras. Bagaimana mungkin rumah sekecil itu sanggup menampung gerombolan yang berjumlah demikian banyak. Namun ketika akhirnya masuk, ternyata dalam rumah itu luas sekali. Seluruh gerombolan hanya memenuhi satu pojok rumah saja. Barulah para berandal itu sadar bahwa Syekh Anom bukan orang sembarangan.
Berandal itu dijamu makan oleh Syekh Anom, satu hal yang selalu dilakukannya pada setiap tamu yang datang ke rumahnya. Makanan selalu ada untuk berapapun tamu yang datang setiap harinya. Para gerombolan kecu dipesan agar tidak membuang tulang ayam ke lantai. Namun seorang di antara mereka dengan sengaja membuang tulang ayam ke lantai. Dalam sekejap tulang itu berubah menjadi ayam lagi. Akhirnya para berandal itu pun takluk kepada Syekh Anom.
Sementara itu dilansir dari laman santossalam.blogspot.com diperoleh keterangan mengenai sejarah yang bersifat fragmentaris dari Syaikh Anom Sidakarsa. Beliau diyakini sebagai salah seorang wali yang ikut berperan serta dalam penyebaran agama Islam di wilayah Kebumen. Nama aslinya adalah Dullah Sidiq dan hidup pada zaman Hamengku Buwono ke- IV (Jika benar keterangan ini, maka Syech Anom hidup di era tahun 1814-1822). Meskipun berdarah biru, beliau lebih memilih untuk menyebarkan Agama Islam daripada mementingkan jabatan.
Sebelum singgah di wilayah Petanahan, beliau pernah babad alas di daerah Demak. Selain itu beliau juga pernah singgah di daerah Sumpyuh - Banyumas, dan sempat kembali ke Demak. Namun kemudian beliau melanjutkan dakwahnya menyebarkan Islam hingga sampai wilayah Petanahan - Kebumen dan akhirnya menetap di tempat yang sekarang termasuk desa Grogol Beningsari sampai beliau wafat.
Semasa hidupnya, Syaikh Anom Sidakarsa pernah berguru kepada Syaikh Abdul Awal di Kebonsari. Sebagaimana gurunya, banyak kisah-kisah yang berkaitan dengan karomah dan kewalian Syaikh Anom Sidakarsa yang melegenda. Salah satunya adalah saat beliau menyusul gurunya pergi ke Makkah hanya dengan naik bekong (tempat beras) atau dalam kisah lain naik mancung kelapa seperti halnya gurunya.
Oleh karena cerita itulah kemudian menjadi dasar terciptanya nama Syekh Anom Sidakarsa yang mempunyai arti, kata sida berarti jadi dan karsa berarti kesampaian. Sumber lain menyebutkan bahwa nama Syeh Anom Sidakarsa tersebut diketahui dari seseorang yang selama dua tahun berturut-turut melakukan riyadloh di makam tersebut pada tahun 1935. Orang itu yakni almarhum Simbah Chamid dari Kajoran Magelang.
Jika melihat corak dan motif nisan yang mengikuti pola Hanyakrakusuman dengan keterangan sejarah di atas, nampak ada kesenjangan waktu. Tidak ada kepastian tarikh karena tidak dijumpai inskripsi apapun yang menerangkan tahun wafat Syech Anom.
