Workshop Pelestarian Seni Tradisi Lisan melalui Pementasan Kethoprak di Prembun
Workshop Pelestarian Seni Tradisi Lisan melalui Pementasan Kethoprak di Prembun
Pembukaan Workshop Pelestarian Seni Tradisi Lisan melalui Pementasan Seni Kethoprak dilaksanakan pada Jumat, 13 Februari 2026 oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni Tradisi Surya Sumirat Pesuningan Prembun ini kemudian berlangsung sebagai rangkaian workshop selama dua hari, 13–14 Februari 2026, bertempat di Pendopo Kawedanan Prembun dan Alun-Alun Prembun.
Workshop ini dirancang tidak hanya sebagai pelatihan teknis pementasan kethoprak, tetapi juga sebagai media transfer pengetahuan tentang nilai-nilai budaya, cerita rakyat, serta kearifan lokal yang selama ini hidup di tengah masyarakat. Melalui dialog, praktik, dan pementasan, peserta diajak memahami bahwa kethoprak bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang menyimpan jejak memori kolektif masyarakat Jawa.
Dalam sambutannya, Kepala Disparbud Kebumen menyampaikan bahwa kebudayaan berakar kuat di desa dan tumbuh dari tradisi yang diwariskan secara lisan. Oleh karena itu, pelestarian tradisi lisan melalui panggung pertunjukan menjadi strategi penting agar generasi muda dapat mengenal, memahami, dan melanjutkan warisan budaya tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari fasilitasi Dana Indonesiana oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap pelestarian seni tradisi di daerah. Dukungan ini memberi ruang bagi komunitas budaya untuk terus bergerak, berkreasi, dan memperkuat ekosistem kebudayaan berbasis masyarakat.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi mengenai pengemasan cerita tradisi lisan ke dalam naskah kethoprak, teknik pementasan, penguatan karakter tokoh, hingga praktik langsung di panggung terbuka. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam setiap sesi, diskusi, hingga pementasan yang menjadi puncak kegiatan.
Melalui workshop ini, diharapkan seni kethoprak kembali menjadi ruang hidup bagi tradisi lisan, tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga dikembangkan sebagai sarana edukasi budaya yang relevan dengan zaman.
